Mengapa Otak Kita Kecanduan HP dan Konten Digital?
Dokter SPKJ menjelaskan bahwa masalah utama bukan pada HP-nya, melainkan pada bagaimana algoritma media sosial dan ekonomi digital merangsang otak kita. Di dalam otak terdapat brain reward system (sistem imbalan otak) yang melibatkan struktur seperti sistem limbik, ventral tegmental area, dan nukleus akumbens.
Bagaimana Proses Adiksi Terjadi?
- Saat kita mendapat rangsangan dari konten HP (lucu, menarik, mendapat love/jempol), otak menangkapnya sebagai sesuatu yang enak dan menguntungkan.
- Dopamin meningkat, menciptakan perasaan senang.
- Hal ini mengubah sirkuit otak secara perlahan, membentuk kebiasaan.
- Menurut Sigmund Freud, manusia adalah makhluk ekonomi yang selalu mencari keuntungan dan kesenangan.
Dampak pada Generasi Muda
- Kemudahan akses (Wi-Fi di rumah, dompet digital) membuat anak-anak tidak belajar delay gratification (menunda kepuasan).
- Mereka terbiasa dengan segala sesuatu yang instan: dari menonton video hingga memesan makanan.
- Akibatnya, ketika dihadapkan pada pilihan, mereka cenderung memilih wants (keinginan) dibanding needs (kebutuhan).
Jenis-Jenis Adiksi yang Umum Terjadi
- Kecanduan Medsos & Game – Rangsangan visual dan interaksi sosial palsu memicu dopamin terus-menerus.
- Judol (Judi Online) – Dipicu oleh keinginan cepat kaya tanpa usaha.
- Pinjol (Pinjaman Online) – Kemudahan akses finansial tanpa pemahaman risiko.
- Pornografi & PMO – Orgasme memberikan gratifikasi instan yang menumbuhkan fantasi.
- Workaholic & Kecanduan Olahraga – Meski terlihat positif, bisa menyebabkan masalah kesehatan jika tidak terkontrol (misalnya hipertrofi ventrikel kiri pada atlet).
Faktor Risiko dan Genetik Adiksi
- Tidak semua orang bisa menjadi adiksi. Ada faktor genetik dan bawaan (dapat dideteksi dengan tes MMPI).
- Orang dengan kepribadian histrionik (suka perhatian) atau narsistik (merasa hebat) lebih rentan terhadap perilaku adiktif.
- Proses adiksi dimulai dari liking (suka), berubah menjadi wanting (ingin), hingga akhirnya muncul gejala obsesif-kompulsif: gelisah jika tidak dilakukan, lega sesaat setelah dilakukan.
Cara Menghadapi Orang dengan Adiksi di Sekitar Kita
Dokter menekankan filosofi Jawa: Eling dan Waspada (sadar dan waspada).
Langkah Praktis (Teknik STOP):
- S – Stop (berhenti sejenak)
- T – Take a step back (mundur selangkah, ambil jarak)
- O – Observe mindfully (amati dengan kesadaran penuh)
- P – Proceed mindfully (lanjutkan dengan respons yang bijak)
Pentingnya Boundaries (Batas Diri)
- Dalam budaya Indonesia yang guyub, seringkali batas antara diri sendiri dan orang lain kabur.
- Kita perlu memiliki self yang utuh dan tidak membiarkan pendapat orang lain mendominasi.
- Tetap dengarkan masukan sebagai feedback, dicerna, lalu direspons secara mindful.
Tips untuk Orang Tua: Mencegah Adiksi pada Anak
- Latih delay gratification sejak kecil – Ajarkan anak untuk berusaha terlebih dahulu sebelum mendapatkan sesuatu.
- Jangan penuhi semua permintaan instan – Ini membentuk habit yang buruk.
- Pilih lingkungan yang heterogen (sekolah dengan latar belakang suku, budaya, ekonomi berbeda) – Untuk belajar menghargai perbedaan.
- Tanamkan prinsip “There is no free lunch” – Segala sesuatu butuh usaha.
- Berikan pemahaman tentang self-awareness – Agar anak bisa membedakan antara keinginan dan kebutuhan.
Kesimpulan: Adiksi Bisa Dialihkan ke Hal Positif?
- Dorongan adiksi bisa dialihkan ke aktivitas produktif (misalnya mencari cuan).
- Namun, tetap perlu kontrol agar tidak berlebihan (misalnya workaholic yang menyebabkan penyakit fisik).
- Kunci utamanya adalah memahami diri sendiri, memaknai apa yang dilakukan, dan menjaga keseimbangan.
Pesan Kunci: "Yang terpenting adalah eling dan waspada. Kita harus mindful terhadap dorongan dalam diri, dan jangan sampai menjadi reaktif. Jika merasa kesulitan, jangan ragu mencari bantuan profesional."
Semoga bermanfaat. Tetap jaga kesehatan mental Anda dan keluarga.
ee orang tua kecanduan main HP, main WA, yang muda kecanduan judul dan pornografi, yang anak mudanya kecanduan
konten-konten brand road. Nah, dari dokter SPKJ sendiri bisa enggak jelasin eh apa yang terjadi sama otak manusia
sekarang gitu loh sama kenapa semua terpaku sama HP semua dan apa yang membuat mereka enggak bisa lepas dari
HP. Ah, lagi ngetren ya. Jadi memang gini, kalau zaman dulu enggak ada HP, kita
mencari kesenangan dengan ee hal-hal lain. Tetapi sekarang masalahnya bukan HP-nya. Masalahnya adalah ee yang
disebut dengan ee apa? Digital economics ya atau apa itu? Jadi ee dia itu dengan ee media sosial dengan segala macam itu
ya dengan algoritma ya dia itu merangsang otak kita itu dapetin suatu reward di yang namanya brain reward
system. Jadi di otak ini ada yang namanya brain reward system. strukturnya itu sistem limbik tadi, pusat emosi ya,
ventral segmentum area ya, dan nukleus akumben. Ketika kita itu dapat ee rangsangan dari
konten di HP itu, eh lucu nih, eh menarik nih, eh dikasih love, dikasih jempol. Ah, dia dapat stimulus tuh
ditangkap oleh otak kita. Jadi sesuatu yang enak, sesuatu yang bagus, ditangkap oleh brand reward system, dopaminnya
naik. Nah, hal ini akan mengubah sirkuitnya, akan mengubah otak kita. Karena manusia
menurut Sigmun Freud adalah makhluk ekonomi, selalu mencari yang enak, keuntungan.
Dari situ dia akan terbiasa. Oleh sebab itu, dengan adanya gadget sekarang yang di mana-mana bisa dilihat segala macam
tuh, sekarang banyak generasi muda yang enggak mau ngapa-ngapain. Yang penting apalagi di rumahnya ada
Wi-Fi, dia kadang-kadang enggak sadar kalau Wii itu mesti bayar pakai duit. Dia tinggal pakai dari kecil tinggal
pakai Wi-Fi ada di rumah, mau makanan ada, mau apa ada. Kalau lapar tinggal makan ya kan. tinggal pesan duitnya ada
keisi gitu kan di apa fintech eh dompet digital akibatnya orang akan menuju ke sana. Nah, hal yang menarik buat manusia
itu kan adalah mau kaya ya kan. Kalau ditanya anak sekarang, saya suka tanya sama pasien, "Kamu suka
duit enggak?" Ah, kalau dia bilang enggak suka duit, nah nih ada apa nih? Kalau dia bilang suka duit, nah berarti
kamu mau kaya. Pertanyaan selanjutnya adalah kaya untuk apa? Ya kan? Nah, ini banyak anak muda sekarang
kaya untuk apa ya? Oh, kaya supaya saya bisa beli apa yang saya mau. Et nanti dulu beli apa yang kamu mau. Lihat dulu.
Kita tahu ilmu marketing itu kan dengan iklan, dengan segala macam. itu merangsang brand reward system juga
supaya orang tuh mau lagi mau lagi. Padahal apa yang kita beli itu mungkin bukan needs, tetapi dia merangsang
wants. Jadi orang yang mulai kecanduan pertama dia iseng-iseng iseng-iseng kerangsang kan di brer systemnya itu
lama-lama kalau dia punya bakat adik situ, itu dia akan me membentuk sirkuit itu seperti orang obsesif kompulsif.
Dia enggak mau pun ya. Pertama liking ya. Akhirnya jadi dia kayak ingin wants muncul pikiran. Kalau enggak dilakukan
dia gelisah, tegang. Kalau sudah dilakukan lega sesaat eh muncul lagi, maksa lagi. Akhirnya dia akan melakukan
perilaku itu berulang-ulang toh. Nah, tergantung nih sekarang dia kenanya ke mana. Kalau dia mau kaya, dia coba-coba
judul kena ke judi online atau coba-coba apa? Pinjol pinjaman online. Karena apa? Dengan adanya gadget saat ini,
anak sekarang enggak dilatih seperti anak dulu. Kalau mau nonton Unyil Dora Emon nunggu ya hari Minggu. Sekarang
enggak. Langsung buka cari di YouTube. Nah, ada langsung semua instan enggak belajar delay gratifications.
Padahal delay gratification itu harus dilatih dari kecil tuh. Nanti yang kalau pada mau punya anak, anaknya dari kecil
harus dilatih delay gratifications. Jangan ada apa-apa langsung. Orang suka menyalahkan generasi
stroberi. Yang salah bukan generasi stroberi. Yang salah orang tuanya. I kan masa anak sampai umur 30 enggak
pernah diajarin bagaimana memanage uang saku. Mau minta dikasih, minta dikasih. Katanya apa? Kasihan, Dok, anak saya
dulu saya enggak mampu, sekarang saya mampu. Saya kasih anak saya mau apa, katanya gitu.
Ini bukan pola asuh yang baik, membentuk habit yang jelek. Lalu ada orang yang yang namanya seksualitas itu kan menarik
ya kan. Makanya psikiater ini juga mengambil peranan dengan psikolog itu di Asosiasi Seksologi Indonesia di masalah
seks. Seks itu nyandu karena orgasme itu dia menumbuh suburkan fantasi.
Nah, kemudian kan yang paling gampang kan istriku tangan kananku. Nah, ini hati-hati nih. Ini ini namanya tadi ee
gratifikasi yang ee instan. Nah, ya. Nah, itu jadi tergantung nih dia nih ke arah mana. Enggak semua orang juga bisa
jadi adiksi. Adiksi itu juga ada gennya, ada bakatnya. Makanya kalau dites MMPI Minnesota Multivasi itu ada. Tapi ada
pertanyaan-pertanyaan yang terkait dengan dia rentan enggak terhadap adiksi. Hanya pernyataannya itu lebih
banyak tentang obat. Jadi sama seperti adiksi obat merangsang di sini merangsang mengganggu dopamin segala
macam dan endorfin. ya sampai ke area yang disebut dengan brand reward system. Bisa enggak ada cara kita melatih adiksi
itu ke hal yang positif? Kan kita kalau ngelihat bahas adiksi selalu yang jahat-jahat kayak misalkan PMO, misalkan
judi online. Bisa enggak kita arahin drive itu? Drive adik situ, tapi buat nyari uang, berbuat kebaikan gitu-gitu
ada enggak? Itu enggak dianggap penyakit. Padahal itu masalah yang sebetulnya tanda kutip
kalau dia menyebabkan distress dan disability itu penyakit. Contoh banyak di kalangan entrepreneur itu gila kerja.
Gila kerja produktif banyak uang banyak ini perusahaan orang katnya bagus. Tapi apa yang terjadi dengan organ kita?
Otak kita enggak istirahat, jantung tekanan darah enggak istirahat. mesti
on terus kan excited terus nanti kena penyakit tuh. Terus ada orang yang kecanduan makanan.
Kalau dia kecanduan makanan dia makanan terlalu banyak bikin sakit metabolik ya kan. Dia udah kena serangan jantung
tetap aja mesti makan soto tangkar, soto apa gitu yang ini ya kan enggak bisa kontrol. itu kan mesti diatasi juga
karena itu akan menyebabkan distress dan disability. Orang yang gila olahraga banyak kan
positif kan bisa achieve jadi juara jadi apa gitu. It's ok. Selama itu memang sesuai dengan
ininya planning dia dengan jadwalnya. Tapi kalau terus dia mesti terus terus terus terus. Anda tahu apa yang terjadi
pada olahragawan? Kebanyakan jantungnya mengalami left ventricle hypertrophy. Jadi ventrikle kirinya itu kebanyakan
tuh membesar dindingnya karena kan dia dipacu terus. Kalau sudah logi pertandingan mana pernah orang
pertandingan ngitung, "Oh, ini heart rate eh maksimal saya 220 dikurangi usia dik 80% gambat terus." Ya kan? Jadi dia
over kan dipaksa. Jadi tadi yang dikatakan adiksi positif ya, kesannya positif. Makanya kembali lagi sebetulnya
kalau kembali ke masalah psiko analitik, perasaan kita tuh mesti memahami diri kita,
memaknai apa yang kita lakukan, arah hidup kita. Karena kalau kita cuma ngikuti dorongan itu
ya kita enggak di dalam keseimbangan ya. sehingga kalau enggak dalam
keseimbangan over jadi ee apa diforsil ya terlalu dipaksa gitu ya. Ah yang terjadi adalah ya sakit
gitu, Dok. Saya mau tanya kalau ini kan dari tadi kita bahas soal orang-orang yang
mengalami adiksi tersebut gitu. Tapi gimana dengan orang-orang yang berada di sekitar orang-orang yang mengalami
adiksi tersebut gitu? Sengsara. Nah, cara ngadepinnya gimana, Dok?
Karena kan sekarang berarti kan sosm kan ya orang-orang makin aktif kan pakai sosm. Maksudnya buat dapat gratifikasi
tuh gampang berantem aja sama orang di sosm tuh juga mereka dapat kepuasan gitu. Nah, kita sebagai untuk menjadi
orang yang waras gitu gimana caranya untuk menghadapi orang-orang dengan adiksi ini, Dok? Gitu.
Pertama kan kalau dalam eh filosofi Jawa ada yang namanya eling dan waspada. Jadi, kita mesti selalu eling, kita
mesti selalu mindful sebetulnya. Kalau kita enggak eling, kita enggak mindful, maka kita akan ngikutin
dorongan kita. Ada yang namanya kepribadian histonik yang lagi ngetren itu kan NPD, narcissistic personality
disorders itu dengan histonic personality dengan satu lagi yang ngetren BPD. Hrtronic
jarang dibahas itu sama-sama kluster yang disebut dengan cluster B personality. Orang yang hisronik itu
senang dapat perhatian. Kalau yang narsis, dia merasa dirinya hebat sehingga layak diperhatikan. Kalau
yang histonik dia enggak merasa dirinya hebat, tapi dia senang kalau dia diperhatiin. Makanya bikin heboh.
Coba lihat deh kalau kita lihat berita ya, artis enggak semua artis itu ee dia jadi artis karena dia profesional acting
atau dia melakukan hal-hal yang seninya itu ya. Tapi ada kan yang kita lihat kayaknya filmnya enggak jelas, e apanya
enggak jelas, tapi heboh terus di medsos, tarik perhatian terus begitu di situ. Oh, ribut apa segala macam. Karena
dia tadi yang ditanya, dia senang kan dapat perhatian dengan hebonya itu kan oh apa namanya ee jadi viral
ya kan. Eh padahal sebetulnya itu masalah kepribadian bisa sampai menjadi gangguan kepribadian. H.
Jadi namanya Honic Personality disorders. Kalau punya pasangan kayak gitu, wah
repot kita. Kita udah kita udah perhatiin kayak gimana pun dia merasanya masih kurang perhatiannya.
Caranya gimana? Masih masih susah. Kurang katanya. Nah itu susah emang ngobatinnya. Ya
kembali lagi tadi pertanyaannya gimana? Tadi saya bilang orang di sekitarnya itu akan sengsara. Kenapa sengsara?
Orang dengan gangguan kepribadian dia tuh enggak merasa ada yang salah dengan dirinya.
Hm. ya kan dia merasa baik-baik saja kok memang sekitarnya yang akan terganggu dia itu baru merasa bermasalah pun ya
kalau dia masih bermasalah orang menjauhi dia apa dia depresi dia cemas apa seb dia datang ke kita itu
komplainnya orang lain manusia itu kan lebih lebih mudah menyalahkan orang lain dibandingkan introspeksi melihat di diri
gua ada apa ya gitu itu tantangannya psikolog dan psikiater yang psikoterapi tuh untuk me apa namanya nya menumbuhkan
insight, kesadaran diri sehingga dia mau eling, dia mau mindful. Nah, kalau dari segi otaknya dorongan
yang terus-menerus itu kalau dia nyadar nih, aduh iya ya tapi kok saya ada dorongan mau ke situ ya tenang
kita turunin kita blok, kita rem. Makanya SPKJ itu pembantunya Momo Geisa. Lumpukan ingatanku, hapuskan memori
tentang yang jelek-jelek gitu ya, tentang perasaan-perasaan itu kan ada kan orang perasaannya kan saya tahu,
Dok, misalkan yang selingkuhan yang sering saya tahu, Dok, sebetulnya buat apa ya
saya nurutin penasaran apa yang dilakukan pasangan saya sama selingkuhannya. Kan cuma bikin saya
tambah sakit ya. Tapi saya penasaran nyari, "Wih, mana mana handphone-nya, mana ininya? Ah, lu ngapain aja? Ah, lu
ngapain aja gitu ya kan? saya mau kendaliin itu. Nah, kalau dia bilang dia mau kendaliin itu, ah, tugas saya lebih
gampang. Nah, kita rehem ya. Jadi, pikiran-pikiran yang kayak gitu itu. Jadi, memang kalau dia udah adiksi itu
seringkiali dia merasa itu bagian dari diri dia gitu loh. Nah, yang penting sebetulnya nih yang agak repot nih ya,
penting tapi agak repot. Anda lihat kalau dulu campaign narkoba, say no to drugs,
tapi dia enggak bilang loh, say yes to what? Orang dengan adiksi itu bingung. Dia tuh tahunya yang enak cuman itu.
Disuruh bilang say no to itu gitu loh. Say no to Pondon, say no to PMO. Tapi terus gua mesti melakukan apa? Benar.
Itu yang kita mesti dapetin. Jadi ketika dia datang ke kita, kita blok pikiran itu, kita alihkan ke
sesuatu yang merangsang sistem reward dia ya yang lebih positif. Jangan yang itu dulu lah. Kalau misalkan
di bisa kita rangsang cari duit yang banyak, ah lebih banyak cuan mungkin itu duluah gitu ya kan. Nanti sambil
pelan-pelan kita kendaliin supaya jangan terlalu e serakah gitu loh. Nyari cuannya gitu.
Ya, jadi seringki pasien itu enggak menyadari kenapa? Karena dia merasa itu bagian
dari dirinya dia gitu. Yang kasihan tuh yang di sekelilingnya sengsara. Apalagi masih ada stigma kalau ke psikiater itu
gila. Saya kan enggak gila. Saya cuman adiksi. Adiksi itu tadi kan psikiatri itu kan
pikiran, perasaan, perilaku ya. Adiksi itu udah sampai enggak bisa mengendalikan diri.
Dia tahu dia lakukan ini tuh enggak ada lagi rasa enaknya seperti dulu. Tapi kok dia mesti lakukan? Dia menghabiskan
waktu lebih panjang untuk melakukan itu. Ya, dia enggak bisa mikirin hal lain selain itu. Udah kayak orang jatuh cinta
aja ni. Aku mau tidur ingat kamu, aku mau makan ingat kamu. Ya kan? Nah, itu juga masalah kalau sudah punya pasangan
ya kan. Kalau misalkan sudah punya pasangan, tahu-tahu jadi ingat kamunya sama orang lain kan bahaya. Iya kan?
Nah, cuma kan orang merasa bahwa wah ini enggak apa-apa itu wajar biasa. Karena memang diexperiencing sebagai hal yang
kalau orang enggak eling itu semua tuh wajar bagian dari diri kita.
Tapi kembali lagi mengganggu sekitar. Jadi ada disability, disfungsi, ada distress enggak? Dia merasa enggak dia
ini apa? Terus ada enggak mengganggu tadi dari disability tuh dia punya produktivitas? Karena kalau kita lihat
definisi kesehatan, sehat itu menurut WHO bukan hanya sehat badan, jiwa, tapi sehat sosial.
H karena kemiskinan itu termasuk mungkin gangguan jiwa.
Kan miskin itu kan ada miskin yang struktural. Kalau di Indonesia gajinya kecil, ya itu kan struktural.
ya kan standarnya kecil gitu terus struktural ya sistem tapi kan pasti pernah dijelasin kalau harta kekayaan di
dunia ini dibagi rata dalam waktu berapa tahun nih komposisinya akan balik lagi. 20% dikuasai oleh 20% harta akan
dimiliki oleh 80% populasi 20% populasi akan menguasai 80% harta. Nah, kenapa yang ini jadinya miskin
melulu? Karena di dalam ee praktik ekonomi ini itu butuh
ini otak depan. Otak depan untuk bikin planning, inhibisi, delay gratification,
mengontrol, mengendalikan, melakukan planning itu satu-satu. Itu semua yang akan bikin kita bisa bertahan gitu. Saya
mau nanya nih, kalau misalkan keliling saya, keluarga saya, kerabat kerja saya, semua mengacuse saya bahwa saya adalah
NPD, apa yang harus saya lakukan selain datang ke SPKJ, datang ke psikiater, apa
yang apakah NPD saya bisa diobati? Kalau udah di disorders, wah ini repot karena susah. Dia enggak punya insight,
enggak punya daya untuk introspeksi diri. Tetapi kalau dia masih NP-nya ini ciri kepribadian,
dia pasti akan nanya, "Lu pada bilang gua NPD, emang apanya sih yang NPD?" Nah, sebelum dia datang ke psikiater, ke
psikolog tuh dia tanya dulu ya kan emang apanya sih yang NPD gitu loh. Tapi kalau udah di udah disorder
emang gua pikirin el bilang gua Npid emang gua pikirin el kali yang ngacau katanya gitu ya kan
lu lu lu pada ngacau semua gitu. Jadi itu orang semua yang pada ngacau gitu loh.
Tapi kalau dia masih ciri ciri kan boleh dong. Orang semua punya ciri hisronik boleh.
Punya ciri NP boleh, punya ciri sedikit borderline oke enggak ada masalah. Punya ciri
sedikit paranoid ya introvert gitu atau menghindar apa anxiety ya boleh aja tapi dia masih bisa kendaliin dia bisa
fleksibel dia masih ngerti dia masih bisa nanya orang. Nah, kalau misalkan iya ya, oh gua suka ada dorongan begitu
ya. Gimana ya caranya supaya bisa aware, bisa kendaliin? Ah, baru cari bantuan profesional gitu loh. Tapi kalau
misalkan iya ya gua latih sendiri, gua bikin jurnal sendiri, kalau kayak gini gua pikir dulu responnya jangan langsung
kayak paling benar sendiri misalnya gitu ya. Kalau masih bisa kayak gitu kan enggak usah buang duit ke psikiater ke
psikolog bukan apa. Kebanyakan yang ke psikiater ke psikolog pajaknya makin gede progresifnya pusing. Misal misal
gini misalnya Dok ini misalkan ee Leo ini NPD akut tapi udah resah banget kita kita semua gotok ke dokter obat apa yang
bisa benerin otaknya orang NPD. Wow. Gini,
dalam psikiatri, dalam ilmu psikologi, psikiatri itu bukan hanya obat. Makanya tadi saya ada singgungkan ada
yang namanya tadi di psikoterapi, terapi perilaku. Nah, yang jadi masalah walaupun dia
dikasih obat, dia mau enggak latihan untuk bisa aware untuk melatih perilakunya berubah.
Misalnya biasanya nih begitu ada diskusi dia langsung angkat tangan dulu. Woh, menurut saya begini begini begini. Nah,
sekarang dia sadar nih kalau dia ada dorongan gitu. Entar dulu ya, sebentar dulu. Tarik
nafas dulu, perhatiin dulu entar udah berapa orang yang ini baru komen. Kalau menurut saya ya gitu loh. Kan enggak
kelihatan jadinya enggak kelihatan kayak apa siali. Heeh. Kayak gitu ya. Jadi kalau gangguan
kepribadian ya enggak ada yang akut dia. Karena kepribadian itu kan terbentuk setelah usia ee 17 18 tuh. Nah, dia
jalan terus tuh dari kecil terbentuk trad-nya terti jalan terus gitu. Nah, itu ada faktor genetik juga.
Gini, kalau ada yang membantah soal genetik ya, coba perhatiin punya anak berapa orang
atau punya saudara berapa orang. Didiknya sama, orang tuanya sama, tapi bawaan sifatnya beda-beda.
I kan lah itu kan bawaan tuh ada genetiknya tuh. Walaupun kita belum tahu genetiknya yang mana yang tepatnya
karena banyak faktornya. Jadi, setiap orang tuh unik, ada bawaannya masing-masing. Tergantung kita mau
meresponnya bagaimana gitu ya. Jadi memang agak susah kalau kalau kalau apa kalau orang ganggu kepribadian sih kalau
dibawa ke saya ya kan langsung saya rujuk ke yang lain gitu aja katanya. Soalnya saya bukan yang
psikoterapi tapi kalau misalkan dia mau gitu loh diajak cari makna hidup mengenali
latihan mindfulness-nya gitu kan mau dibantu misalkan oke mindfulness-nya saya enggak bisa ngebayangin dibantu
pakai neuro feedback gitu ah bolehlah ke saya gitu. Oke, Dok. Aku mau nanya ee mungkin ini enggak apa ya, agak beda
sama yang lain, cuman aku mau tanya. Kan tadi dokter udah ngomong tentang apa? Orang-orang yang punya disorder-disorder
gitu kan itu mereka punya gangguan sama otaknya kan. Ee kita juga mengetahui fakta itu. Tapi ketika mereka menyakiti
kita, gimana kita bisa berempati sama mereka gitu. Kayak mereka menyakiti itu tapi aku nyadar kalau misalnya mereka
punya gangguan di otak tapi kayak aku pengin empati cuman dia sakitin aku gitu. Nah, kan suka ada bercandaan yang
lebih waras ngalah. Nah, kalau dia punya gangguan kan tanda kutip kurang waras kan. Ah,
udah yang lebih waras ngalah. Enggak waras waktu ini kan. Ah, jangan. Kita tetap mindful, tetap
eling. Jadi, kita tahu nih, kita bikin bounderies kan ini saya, itu kamu. Nah, kalau kamu kayak gitu, oh yang saya
enggak suka ininya nih. Yang ini menyakiti saya sebetulnya ya kan? Tetapi kita disakiti, tetapi respon kita, ya
kan mau nerima itu sebagai disakiti atau enggak itu kan tergantung kita. Kalau kita terima itu sebagai disakiti
terus, kita enggak ubah pemaknaannya, sakit terus. Sakitnya tuh di sini, ya kan? Nah, oleh sebab itu setiap ada
kejadian kita mesti bisa take step back dulu. Jangan ikut ya. T step back dulu.
Mindful kita lihat baru kita response. Maksud dia melakukan itu memang sengaja menyakiti aku
atau ya namanya juga dia begitu enggak gitu enggak gitu penuh agak koplak gitu ya kan. Nah jadi ya mungkin dia enggak
sengaja karena dia begitu kan gitu misalnya. Jadi ini ini pertanyaan bagus nih penting nih nyata sehari-hari gitu
ya itu ya responnya ya. Jadinya kita ada namanya dialectical behavior therapy. Kebetulan saya juga certified itu ee itu
ada modul-modulnya dari mindfulness kemudian sampai ke tadi eh bagaimana kita interpersonal effectiveness,
bagaimana menghadapi itu. Jadi ada teknik stop tadi. Teknik stop itu S-nya stop, T-nya take a step back dulu. O-nya
observe mindfully, P-nya proceed mindfully baru kasih response. Jadi ada stimulus.
Nah, ini enggak kita langsung dari stimulus ini kita langsung reaktif kasih respon. Jadi kasih respon itu ada dua.
Yang langsung reaktif, enggak dipikir lagi. Yang impulsif sama yang take a step back dulu 1 2 detik. Tarik napas,
observe mindfully. Proceed responnya mindfully. yang asertif gitu.
Jangan dekat-dekat sama orang yang gitu ya kan. Kita mesti ada bonderis. Ini saya ini kamu. Masalah bondis di
Indonesia itu sering kali jadi masalah. Banyak kita punya kita punya budaya bagus, guyub, tetapi kadang enggak
membentuk kita punya self dengan utuh. Sehingga enggak ada bonderis antara apa kata saya dan apa kata keluarga kita,
teman-teman kita yang di sekitar kita. Makanya dulu waktu saya mau ngambil spesialis jiwa zaman dulu mau ngambil
spesialis jiwa tuh kan stigma banget. Aduh Wan Wan ngambil spesialis tuh ya yang lebih ini katanya masa ngambil
spesialis kayak begituan ya kan. Tetapi kembali lagi saya mesti tahu utuhnya saya gimana self saya gimana kenapa saya
enggak mau ngambil spesialisnya neurologi misalnya kan sama-sama otak. Kenapa enggak mau bedah saraf? Kan
sama-sama otak. tapi lebih fokus ke bedah. Nah, jangan sampai apa kata orang itu
mendominasi kita punya self, kita punya ego. Jadi, kita mesti ada boundary situ.
Tetapi kita tetap dengerin apa masukan orang karena itu input apa? Feedback. Kita digest, kita cerna, kita response
gitu loh. Itu penting. Saya enggak ngajarin, enggak usah dengerin orang bilang apa.
Cuek, jadilah dirimu sendiri. Enggak ya seperti itu. Jelas kira-kira. He,
Dok, saya mau tanya. Aku tuh jadi wor sekarang karena kok kayaknya jadi makin jarang ngelihat orang yang normal ya
maksudnya. Maksudnya kayak seakan-akan kita ngelihatnya kayak banyak oh ini ada
orang sakit ini. Maksudnya itu kan tapi invisible illness kan maksudnya penyakit kejiwaan ini gitu.
Udah ada ininya. Oh iya maksudnya kelihat di otak cuman kayak
enggak terlalu invisible lagi gitu. Maksudnya orang-orang enggak bisa kayak misalnya apa ya, ada penyakit secara
fisik itu kan kelihatan secara langsung gitu, Dok. Nah, nanti kalau misalnya kita nih kan di sini pada muda-muda
semua, Genzi, Gen Alfa udah jadi orang tua itu gimana ya biar ngelatih anak kita itu punya self awareness gitu. Jadi
enggak mewariskan misalnya penyakitpenyakit ee kejiwaan ataupun luka luka sebelumnya
gitu. Trans generasional
trauma C. Iya kan mewariskan trauma itu ya kan. Ini rupanya teman-teman Malaka masih banyak yang mau punya anak bukan
Chre nih ya. Tadi pertanyaannya normal dan abnormal. Makin banyak orang yang enggak normal.
Terlihat dia. Heeh. Nah, jadi sebetulnya yang disebut normal dan abnormal itu statistik yang
normal tuh yang di sini katanya yang agak beda ini katanya abnormal. Tidak semua orang yang abnormal itu
sakit. Jadi ada kriterianya sakit itu. Kalau di mental illness ada walaupun ada
halusinasi, ada itu selama dia itu enggak ada distress dan disability, enggak meningkatkan penderitaan dirinya
dan sekelilingnya, orang-orang sekitar itu belum masuk ke dalam suatu penyakit. Jadi itu masih kita anggap memang semua
orang adalah setiap individu adalah unik seperti sidik jari katanya enggak ada yang sama, ya kan? Nah, bagaimana kita
bikin itu semua bisa saling kolaborasi, bisa saling menerima plus minus. Nah, jadi anak-anak itu sejak kecil, wah ini
mesti topik sendiri tentang parenting nih. Nah, saya sih kalau saya PD bikin parenting karena anak saya sudah gede.
Kalau dulu anaknya masih kecil katanya, "Ah, belum terbukti lu katanya bisa parenting." gitu kan.
Anak itu mesti dikondisikan. Bahkan mencari sekolah aja saya mesti survei dulu latar belakang orang tuanya
apa ya anak-anak yang sekolah di situ enggak bisa yang homogen. Saya akan cari yang heterogen. Baik itu
heterogen dari suku, budaya, latar belakang pendidikan, pekerjaan, sebaiknya yang lebih heterogen. Jangan
yang sama. Dia belajar untuk menghargai perbedaan, untuk melihat kenyataan bahwa oh
ternyata masing-masing tuh ada plus minusnya. Seperti kita kalau jadi pemimpin itu mesti pandai merangkul
semua the right man in the right place in the right time. Kita pakai enggak bisa kita mau dapetin tim yang ideal
semuanya pasti ada plus minus. Bagaimana kita kolaborasikan itu menjadi sebuah
kekuatan. Nah, jadi dari kecil anak itu mesti diajarkan melihat itu satu. Makanya
prinsip bineka tunggal ika itu betul bagus. Kemudian dari situ tadi kita ajarkan
anak itu untuk punya fighting spirit dengan adanya delay gratification. Suruh dia usaha dulu. There is no free lunch.
Even you punya duit banyak, jangan kasih anak duit itu. Nanti jadinya kayak saya. stres milih jadi psikiater karena lahir
dari keluarga kaya raya tujuh turunan. Saya turunan keedelapan udah miskin, udah susah.
Tapi, tapi saya bilang ini kejadian nih anak saya protes. Kalau papi ke-elan, saya keesembah di sini kenapa enggak
lahir yang masih ada ee ininya remah-remahnya? Jangan komplain. Kita semua ada
nasibnya. Cocok kan kalau di Malaka Project mau bikin kelas kehidupan.
Kalau perlu nanti dibikin apa namanya terapi mencari maknanya dengan kita discus kayak pakai Sokratik. Sokratik
ini ya. Sokratik apa? Tanya jawab Sokrates. Apa itu baik gitu? Baik menurut kamu kan beda menurut saya gitu.
Okay.
Penyebab utamanya bukan pada HP-nya, melainkan pada algoritma media sosial dan ekonomi digital yang merangsang brain reward system di otak. Saat kita mendapat rangsangan seperti konten lucu atau like, otak melepaskan dopamin yang menciptakan perasaan senang. Lambat laun, hal ini mengubah sirkuit otak dan membentuk kebiasaan adiktif.
Jenis adiksi yang umum meliputi kecanduan media sosial dan game, judi online, pinjaman online, serta pornografi dan PMO. Selain itu, ada juga workaholic dan kecanduan olahraga yang terlihat positif namun tetap berbahaya jika tidak terkontrol, misalnya menyebabkan hipertrofi ventrikel kiri pada atlet.
Tidak semua orang bisa menjadi adiksi karena ada faktor genetik dan bawaan yang dapat dideteksi dengan tes MMPI. Orang dengan kepribadian histrionik (suka perhatian) atau narsistik (merasa hebat) lebih rentan. Proses adiksi dimulai dari liking, menjadi wanting, hingga akhirnya muncul gejala obsesif-kompulsif seperti gelisah jika tidak melakukannya.
Pendekatan yang dianjurkan adalah filosofi Jawa Eling dan Waspada (sadar dan waspada). Gunakan teknik STOP: Stop (berhenti), Take a step back (ambil jarak), Observe mindfully (amati dengan sadar), lalu Proceed mindfully (respons dengan bijak). Penting juga untuk memiliki batas diri yang sehat agar tidak terbawa arus pendapat orang lain.
Latih delay gratification sejak kecil dengan mengajarkan anak untuk berusaha sebelum mendapat sesuatu, jangan penuhi semua permintaan instan. Pilih lingkungan sekolah yang heterogen agar anak belajar menghargai perbedaan, tanamkan prinsip 'There is no free lunch', dan berikan pemahaman tentang self-awareness untuk membedakan keinginan dan kebutuhan.
Ya, dorongan adiksi bisa dialihkan ke aktivitas produktif seperti mencari cuan atau bekerja. Namun, tetap perlu kontrol agar tidak berlebihan, misalnya menjadi workaholic yang menyebabkan penyakit fisik. Kuncinya adalah memahami diri sendiri, memaknai apa yang dilakukan, dan menjaga keseimbangan.
Langkah pertama adalah eling dan waspada – sadari dan amati dorongan dalam diri tanpa reaktif. Gunakan teknik STOP untuk mengambil jeda dan respons dengan bijak. Jika kesulitan, jangan ragu mencari bantuan profesional seperti psikolog atau psikiater.
Keep this summary
Save it to LunaNotes and it becomes a real note in your library — editable, searchable, and ready to turn into flashcards or a diagram. Free to start.
Save to LunaNotesOr summarise for another video.
This summary and transcript were automatically generated using AI with the Free YouTube Transcript Summary Tool by LunaNotes.
Related summaries
The Dark Side of ADHD: Understanding the Struggles and Finding Hope
Explore the challenges and hidden strengths of living with ADHD—discover how to thrive despite the struggles.
How Digital Habits Are Weakening Your Brain and Ways to Rebuild Focus
Everyday digital habits like doom scrolling and constant phone use are linked to decreased attention, executive function, and cognitive flexibility. This summary explores the science behind these effects and offers practical, research-backed strategies to restore your mental sharpness and focus.
Understanding ADHD: Challenges, Treatments, and Real-Life Experiences
This comprehensive summary explores Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) through real-life stories of children and adults, highlighting symptoms, behavioral challenges, treatment options like Ritalin, and the importance of personalized support strategies. Gain insights into how ADHD affects focus, impulsivity, and social interactions, along with considerations for families and educators.
Menghadapi Tantangan Penjualan di Era AI: Peluang dan Strategi untuk Sales
Dalam video ini, Coach James G membahas tantangan yang dihadapi oleh tenaga penjual di era kecerdasan buatan (AI) dan bagaimana mereka dapat memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kinerja penjualan. Diskusi mencakup pentingnya adaptasi, penggunaan alat seperti chatbot, dan strategi untuk tetap relevan di pasar yang terus berubah.
Understanding ADHD: Diagnosis, Treatment, and Relationship Insights
Explore expert insights on ADHD's impact on brain function, relationships, and daily life. Learn practical strategies for diagnosis, treatment options including supplements and neurofeedback, and advice for managing ADHD in partnerships and families.
Most viewed summaries
A Comprehensive Guide to Using Stable Diffusion Forge UI
Explore the Stable Diffusion Forge UI, customizable settings, models, and more to enhance your image generation experience.
Kolonyalismo at Imperyalismo: Ang Kasaysayan ng Pagsakop sa Pilipinas
Tuklasin ang kasaysayan ng kolonyalismo at imperyalismo sa Pilipinas sa pamamagitan ni Ferdinand Magellan.
Mastering Inpainting with Stable Diffusion: Fix Mistakes and Enhance Your Images
Learn to fix mistakes and enhance images with Stable Diffusion's inpainting features effectively.
Pamamaraan at Patakarang Kolonyal ng mga Espanyol sa Pilipinas
Tuklasin ang mga pamamaraan at patakaran ng mga Espanyol sa Pilipinas, at ang epekto nito sa mga Pilipino.
How to Install and Configure Forge: A New Stable Diffusion Web UI
Learn to install and configure the new Forge web UI for Stable Diffusion, with tips on models and settings.
Found this summary useful?
Take it with you. One click puts it in your own LunaNotes library.
Save to LunaNotes